Minggu ini ke Samarinda lagi. Rencana 3 hari simultan, tekadnya menuntaskan tesis sekaligus ujian sidang masternya Misay. Berdua saja perginya lantaran Ang ditahan Nma Npa-nya. Bismillah, perjalanan dimulai. Tidak buru-buru dan tidak niat ngebut.
Di samarinda, kami mencoba hotel baru. Bintangnya 3. Fresh from the oven lah. Baru soft opening. Pembangunannya area parkirnya aja masih finishing. Hotelnya sangat berseni. Lobbynya ada 2, outdoor dan indoor. Ada 2 patung gendut keemasan dan guci2 raksasa terpasang, mungkin patung dewa kemakmuran atau dewa kekayaan di lobby indoor, entahlah. Uniknya, meski hanya 7 lantai tapi setiap penomoran kamarnya dimulai dengan angka 8 misalnya kamar 712, nomor kamarnya tertulis 8712. Bau khas purnish furnitur masih terasa di hidung.
Yang eksotik, hotel ini ternyata surganya vegetarian. Hampir seluruh menunya (kecuali minuman) adalah menu vegetarian. Tidak ada yang asli kecuali telur meski tertulis ada seafood sampai daging-dagingan dalam segala rupa resep olahan,namun tetap saja dibelakangnya diembeli vegetarian. Saya menyebutnya sapi, ayam dan seafood sintetik. hehehe. Saya sempat nyoba bakso dan soto ayam vegetarian. Meski tekstur, fisik dan rasanya agak mirip tetap saja lidah dan kerongkongan saya masih belum bisa beradapasi. Namun karena menunya semuanya itu, kami terpaksa beli lauk buat sahur hotel di warung padang (yang ini sudah pasti asli dan sangat karib di tenggorokan) agar bisa tetap makan dan berpuasa. Karena di hotel meskipun dagingnya sintetik, nasinya pasti asli beras original.
Di luar itu, overall hotel ini bisa jadi surganya para vegetarian. Yang biasa ada kan hanya resto, tapi kalo hotel vegetarian kami baru mendapatkan yang ini saja. Hotel yang tidak biasa dan berani beda di tengah kota samarinda.
Update info, manajernya bilang, paska lebaran nanti menu sudah ada dua macam; vegetarian dan biasa non vegetarian. Bahasa awamnya, yang daging sintetik dan daging original sudah tersedia dan bisa dipilih.