Friday, January 8, 2010

PAGI DI GLODOK, MALAM DI NITE CLUB

Sesuai rencana usai sarapan, perjalanan dimulai. Bismillah, tujuan pagi ini ke Glodok. Ini perjalanan menuntaskan dendam. Dendam pada pedagang dvd dan bioskop XXI di Balikpapan.
Setelah semalaman mencari pelbagai judul film kategori 'must to see', dari Bollywood hingga Hollywood, dari Thailand hingga Korea, dari animasi hingga real human actor/actress
Hasilnya: 53 film dvd berpindah tangan dan perut keroncongan. Di LG plaza Glodok ternyata ada food court yang nilai seporsi makanannya tidak bakal menguras kantong. Murah, bersih dan variatif. Mau sistem paket hemat ada, mau cara prasmanan juga ada. Yang bonus air kemasan plus pisang sebiji pun ada. Bahkan mau dansa dansi hingga karaoke di panggung pun ada. Lengkap kan teman. Pengalaman kuliner yang tidak biasa namun unik. Recommended buat yang lapar dan masih beredar disekitar glodok.
Perjalanan dilanjutkan.
Malamnya, diajak teman, menikmati musik menghentak di sebuah nite club di wilayah jantung kota.Suprise bagi saya. Ajakan yang tidak biasa. Biasanya diajak ke majelis taklim saja. hehehe. Begitu masuk, mata butuh waktu beberapa jenak untuk berakomodasi optimal dalam ruangan yang lampunya temaram. Sexy ladies ternyata banyak juga. Belum terlalu malam, masih sekitar pukul 22, irama lagu romantis berganti dengan musik rumah eh.. house music. Another surprise, Erotic dancer yang masih gadis muda usia masuk dan beraksi di tiang-tiang stainless. Wajahnya sih biasa. Namun pesona erotisnya, gerakan dan tubuh moleknya yang menggelayuti tiang besi. Sesekali tangan menari entah membelai apa dan diakhiri dengan gerakan pinggul menghentak. Gerakan yang saya yakini tidak bisa dilakukan oleh mereka yang punya HNP dan osteoporosis. Saya terbayang senam tiap jumat pagi di halaman kantor. Sungguh tidak mirip.
Dan ee.wow... kemben dancer melorot eh bukan melorot ding, tapi sengaja dipelorotin sendiri hingga topless blek. silau, man. Mata saya rasanya makin berakomodasi maksimal, mungkin mulai midriasis. hhhh... Adegan selanjutnya disensor saja ya. Tidak etis dan vulgar. Apalagi blog ini bukan blog erotis. Biarlah cukup saya rasakan saja.
Kesimpulannya: hidup itu ternyata tidak keras, tapi kenyal saja kawan. Jakarta Undercover itu nampaknya benar adanya.

No comments:

Post a Comment