Thursday, March 24, 2011

Day4; MENYUSURI SUNGAI MEKONG; DITIPU BECAK BEN TANH

1 April 2011. Pagi usai sarapan roti Vietnam dan minum kopi Vietnam yang terkenal sedunia itu (eh.. memang nikmat loh). Jam. 08.00 kami dijemput pihak tour untuk ikut tour 1 hari sungai Mekong sambil melihat pasar terapung katanya. Saya penasaran, lebih bagus mana dibanding pasar terapung sungai barito, Banjarmasin.

Dari HCMC ke Ca Bei, tempat dermaga perahu bersandar, ditempuh dengan 1.30 menit. Begitu nyampe, ekspekstasi saya ternyata terlalu tinggi dibanding kenyaataan yang terlihat. Saya tidak melihat adanya hal yang menarik. Sungai Mekong memang nampaknya menjadi salah satu jalur transportasi bagi sebagian penduduk dinegara komunis ini, namun nampaknya tidak dipelihara dengan baik. Penambang pasir banyak menghiasi tengah sungai. Eceng gondok pun banyak berada dijalur sungai yang keruh ini. Luasnya dan panjangnya tidak memukau saya karena saya pikir tidak lebih dari sungai Mahakam di Kaltim. Bahkan sungai Mahakam dan Barito lebih eksotis menurut saya. Keunggulannya adalah pada promosi pariwisata yang fantastis bombastis. Inilah yang membuat sungai Mekong sangat terkenal di dunia melebih sungai Mahakam dan Barito.

Tidak lama kami mendarat di sebuah kampong di pesisir sungai. Melihat peternakan lebah dan produk kerajinan. Istri saya nyeletuk, ini sih banyak di Indonesia. Bahkan lebih baik. Hehehe..

Ada peristiwa lucu disini. Saat peternak lebah memperlihat Royal jelly yang sudah dikemas dalam 6 pot kecil 50 ml. Seorang turis jepang, entah siapa namanya, yang semeja dengan kami tanpa ragu mengambil 1 pot dan menenggaknya langsung sampai habis. Sang peternak yang mengetahui hal tersebut langsung kaget dan misuh2 dalam bahasa vietnam. Setelah kami tanya ternyata dosis sebenarnya hanya boleh seujung sendok sekali sehari dan harga per potnya 200 ribu Dong atau 100 ribu rupiah. Woowww.. apalagi ternyata khasiatnya selain sebagai obat kuat juga untuk membuat awet muda bila dioleskan dikulit. Saya bilang sama teman jepang tersebut, selain akan kuat juga kamu akan menjadi seorang bayi karena overdosis royal jelly. Si Jepang tertawa ngakak sampai jatuh dari kursi. Hahahaha...

Perjalanan selanjutnya naik perahu lagi menuju resto kampung untuk makan siang. Disini bolehlah makan sepuasnya. Harga makanan apalagi seafood termasuk murah di Vietnam. Untuk seporsi udang galah isi 8 atau kepiting saos isi 4 hanya dihargai 70 ribu Dong atau 35 ribu rupiah. Cuma sebelumnya ngomong bahwa kita vegetarian, agar tidak ada babi yang dhidangkan. Hanya nasi, lumpia, sop dan seafood itu tadi. Acara selanjutnya bersepeda keliling kampung. Kali ini kami tidak ikut dan memilih tinggal di resto sambil leyeh-leyeh di tempat tidur gantung. Kenapa? Wong sepeda dirumah aja tidak pernah digowes, la ini di negeri orang malah mau naik sepeda. Ah.. malasnya.

That’s it. Usai sudah perjalanan tur sehari sungai Mekong. Dan waktunya pulang ke kota. Sekitar jam 7 malam kami sudah sampai di jantung kota. Kami putuskan tidak turun di hotel, tapi di Pasar Ben Than. Bukan untuk ngubek-ngubek pasar yang katanya pusatnya oleh2 dan kuliner itu. Tapi kami mau mencoba mencari resto halal di seputaran kota Ho Chi Minh ini.

Namun inilah bencananya, kami terbujuk oleh rayuan tukang becak (disebut cyclo) yang siap mengantar kami ke resto halal di saigon dengan bayaran 15000 Dong satu Cyclo. Kami menyewa 2 becak karena satu becak hanya bisa muat 1 orang, bahkan untuk orang selangsing saya.hehehe. Setelah sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di resto halal yang di maksud. Dan ..... tukang becak yang semula sangat ramah dan santun bagai orang yang lolos penataran P4 5 kali itu berubah jadi vampir yang sangar dan kasar. Bayaran 50 ribu Dong (yang saya sdh lebihkan dari kesepakatan semula itu) dicampakkan dan minta 300 ribu Dong atau 150 ribu Dong per becak!!!

Tapi saya orang bugis yang tidak biasa digertak, jadi saya berdebat juga dengan suara kencang pake bahasa bugis diselingi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Entah dia mengerti atau tidak. Saya tidak peduli, namanya juga lagi emosi. Hehehe. Mungkin karena sy ngototan dan kelihatan tidak lebih galak (padahal istri saya sudah ketakutan takut sy celaka), akhirnya sy bayar juga 150 ribu Dong untuk 2 becak sambil saya kasi kata pamungkas, Kam Er. Terima kasih. Heheheh.. sial betul.

NANTIKAN TULISAN BERIKUT YA, Mencari tempat makan halal di Saigon.

Saturday, March 19, 2011

Day3. VIETNAM; CAAM UHRN

28/2/11. 18.00 meninggalkan Malaysia dan LCCT dengan air asia. Beberapa saat sebelum berangkat sempat berkenalan dengan wanita Vietnam yang bersuamikan seorang Malaysia. Bahasa inggerisnya sedikit2 terasa nyangkut ditenggorokan, bahasa melayunya pun lebih sedikit lagi nangkring di ujung lidah. Sungguh sulit dimengerti. Ini menguatkan anggapan dan pendapat segala penulis yang saya baca di internet bahwa di vietnam bahasa verbal adalah kendala. Penduduk vietnam umumnya hanya paham dengan 3 bahasa; bahasa vietnam, bahasa tubuh dan bahasa kalkulator. Tapi bismillah, ayo kita jalani saja dulu. Pokoknya sampai dululah. Nanti terserah, kita serahkan pada kondisi sajalah.

Perjalanan udara ditempuh kurang lebih 1.50 menit. Beda waktu KL dgn Vietnam itu satu jam lebih lambat. Kalau di Vetnam samalah dengan WIB kira-kira. Disamping tempat duduk kami ada ABG kaya berkebangsaan Vietnam. Kok tau kaya, ya iyalah kira2. Habis waktu beli makan dan minum dipesawat dompetnya dibuka lebar2 sampai keliatan lembaran duitnya. Cuma sayangnya taunya cuman bahasa Vietnam. Akibatnya saat pengen makan, maksud hati maunya makan nasi ayam, eh yang dihidangkan malah nasi lemak. Ampuuun dah pakcik. Inilah pentingnya berbahasa Internasional.

Ada yang menarik waktu mau masuk wilayah Vietnam ini. Saat mau mendarat di Tan Son Nhat airport di Ho Chi minh, kami tidak diminta mengisi kartu kedatangan. Tapi langsung saja masuk via imigrasi. Petugasnya dingin, tapi cukup kaget ketiga saya mengucapkan Caam Uhrn usai urusan imigrasi beres. Kaam urhn (divokalkan Kam ern) kira-kira kalau diterjemahkan artinya Terima Kasih. Mungkin petugasnya terkesima ada juga turis kesasar bisa bilang terima kasih dalam bahasa vietnam. Hehehe.

Bandaran termasuk besar dan bersih, meski lebih kecil dari Soekarno Hatta Cengkareng. Petunjuk kota Ho Chi Minh dan tempat wisata ada disediakan lewat komputer layar sentuh. Ini melambangkan bahwa negara komunis ini juga peduli teknologi informatika. Cuma hati2 dikadalin taksi dan calo. Sebaiknya ambil taksi resmi dari kios taksi yang ada di bandara. Yang bisa dipercaya adalah taksi vinasun dan Maylink. Kendaraan taksi tidak melulu sedan, bisa juga kijang innova. Dari bandara sampai ke wilayah turis di Bui Vien st ataupun Pham Ngu lao, distrik 1 itu dipatok 7USD. Itu harga nett tanpa perlu biaya tambahan lagi.

TIPS. Disarankan sih, alamat yang hendak dituju DITULISKAN dgn jelas dan diberikan ke petugas kanter taksi. Jangan diucapkan karena kedengarannya bisa kacau balau dan jauh dari benar. Artinya peluang nyasarnya besar. Kalau belum punya Hotel atau tempat nginap lainnya, datang saja langsung ke dua alamat tadi, Di wilayah turis tersebut, aneka hotel bertebaran. Harganya bervariasi dan sangat terjangkau.

Cuma kalau makanan, bagi yang muslim harus jeli. Karena warung halal itu jumlahnya sangat terbatas. Di jalan Bui Vien saja, ketemu Cuma 1 café dengan label halal. Café kebab dengan masakan turki. Yang laennya tidak dijamin halal. Bahkan pizza hut di area situpun tidak halal.

Hati2lah dengan kendaraan terutama motor. Inilah Negara dengan sejuta motor merajai jalanan. Bahkan di HCMC inilah mobil dengan penggunaan klakson tersering didunia menurut saya. Mana setirnya dikiri lagi.

Malam ini kami mencoba roti Vietnam yang dijajakan K-5. Bentuknya mirip cakwe harganya 2000 Dong alias seribu rupiah.

Besok rencana menyusuri sungai Mekong. Ambil tour di hotel dengan membayar 17USD per orang. Maka mobil akan menjemput di hotel pagi harinya. Usai berkeliling jalanan, sosialisasi dan aklimatisasi, termasuk menemukan 1 kafe halal punya orang turki dekat hotel, 2 minimart 24 jam dan 1 pizza hut non halal, sisanya boleh dilihat, jangan dicoba bagi yang merasa muslim.

Badan yang lelah, betis yang pegal, baju yang sudah lengket dgn keringat maka kami pun pulang ke hotel dikawasan bui vien distrik 1, sebelahan dengan jalan Pham ngu lao. Dua jalan ini kawasan padat turis. Mandi air panas sepuasnya, nyalaain ac sedingin yang bisa ditahan, lantas menggeletak seenaknya diatas spring bed. Alhamdulillah.

Nantikan tulisan berikutnya… (mencari makanan halal dan masjid di HCMC)

Friday, March 18, 2011

Singapura one day; Mencari bus di Golden Mile Complex



Hari ke 2, 26/2/11. Masuk dan berkeliling singapura tidak sesemangat waktu pertama kedua kali ke Negara kota ini. Semuanya –menurut sy- masih seperti dulu, tidak banyak berubah seperti yg saya lihat awal 2010. Atau saya yang tidak peka dan tidak tau perkembangan.

Masuk ke singapura lewat Malaysia, berangkat dengan tiger airways, sebuah budget flight yang berbasis disingapura. Karenanya maka berangkat lewat LCCT, tibanya pun di budget terminal Changi. Meski namanya budget terminal, namun bandara itu tetap bersih dan nyaman dgn fasilitas standar yang ada seperti toilet. Yang membedakannya dengan terminal 1,2,3 changi adalah tidak ada garbarata yang menyambut kita saat keluar dari pesawat, luasnya, desain interiornya yang ala kadarnya dan tidak adanya fasilitas entertainment seperti terminal lainnya. Untuk menuju ke kota, ada disiapkan bus gratis ke terminal lain yang ada tempat singgah bus dan MRTnya. Dan kami memutuskan menuju ke terminal 2, selain karena sudah cukup familiar dengan apa yang ada didalamnya juga mau menitip bagasi di counter left baggage. Ya.. daripada encok kumat bawa tas berat berkeliling.

Sampai di terminal 2, kami menuju stasiun MRT. Ngecek sisa kartu Ezlink, Alhamdulillah masih ada 3,6$ Singapura. Namun ditop-up aja 10$, untuk jaga-jaga. Sy pikir 13,6$ sangat cukup untuk keliling singapura dengan public transport (MRT atau bus). Apalagi sasaran saya Cuma Chinatown untuk melihat sisa2 suasana imlek dan cap go meh, kampong glam alias kampong arab untuk melihat sekaligus sholat di masjid Sultan, Bugis untuk makan duren (hehehe..) dan Clark Quay untuk naik perahu dan melihat sebagian wajah kota dari sisi sungai singapura. Tujuan tambahan adalah ke golden mile complex untuk menjajaki kemungkinan naik bus ke genting langsung dari singapura.

TIPS. Jika punya niat keliling singapura dalam sehari, jangan bawa ransel atau tas yang berat. Titip saja di Changi bagian LEFT BAGGAGE, kalau di T2 adanya di lantai 1. Untuk 1 tas yang beratnya <10kg,>10 kg, bayarnya 4$S lebih sedikit atau sekitar 30 ribu rupiah. Sy pikir worth it dari pada pundak lecet plus repotnya jalan di tempat rame.

Jangan lupa isi botol air minum di tempat minum umum yang banyak tersebar di Changi. Hitung2 bagian penghematan, soalnya minuman di Singapura termasuk mahal, bisa setengah dari harga makanan. Sebagai gambaran, sebotol air mineral 600 ml itu dihargai paling kurang 1$S atau 7000 rupiah.

Bagi yang hobi naik MRT, stasiun terdekat ke golden mile adalah stasiun Nicoll. Bisa juga sih lewat stasiun Lavender, Cuma harus jalan lebih jauh dikit bila dibanding kita turun di Nicoll. Kalau lewat bus, sy belum tahu dan belum coba.

Di GMC ini segala macam bus dan travel menuju keberbagai arah ada, baik ke Thailand maupun ke Malaysia (Kuala Lumpur dan Genting). Bila mau jalan murah ke Malaysia, naik bus adalah pilihan yang masuk akal. Dengan waktu tempuh 6-7 jam kita sudah bisa sampai di Genting atau KL. Biayanya dari 30 $Sing hingga 50$Sing tergantung dari jenis bus dan tingkat kenyamanannya.

Selamat bertualang.