1 April 2011. Pagi usai sarapan roti
Dari HCMC ke Ca Bei, tempat dermaga perahu bersandar, ditempuh dengan 1.30 menit. Begitu nyampe, ekspekstasi saya ternyata terlalu tinggi dibanding kenyaataan yang terlihat. Saya tidak melihat adanya hal yang menarik. Sungai Mekong memang nampaknya menjadi salah satu jalur transportasi bagi sebagian penduduk dinegara komunis ini, namun nampaknya tidak dipelihara dengan baik. Penambang pasir banyak menghiasi tengah sungai. Eceng gondok pun banyak berada dijalur sungai yang keruh ini. Luasnya dan panjangnya tidak memukau saya karena saya pikir tidak lebih dari sungai Mahakam di Kaltim. Bahkan sungai Mahakam dan Barito lebih eksotis menurut saya. Keunggulannya adalah pada promosi pariwisata yang fantastis bombastis. Inilah yang membuat sungai
Tidak lama kami mendarat di sebuah kampong di pesisir sungai. Melihat peternakan lebah dan produk kerajinan. Istri saya nyeletuk, ini sih banyak di Indonesia. Bahkan lebih baik. Hehehe..
Ada peristiwa lucu disini. Saat peternak lebah memperlihat Royal jelly yang sudah dikemas dalam 6 pot kecil 50 ml. Seorang turis jepang, entah siapa namanya, yang semeja dengan kami tanpa ragu mengambil 1 pot dan menenggaknya langsung sampai habis. Sang peternak yang mengetahui hal tersebut langsung kaget dan misuh2 dalam bahasa vietnam. Setelah kami tanya ternyata dosis sebenarnya hanya boleh seujung sendok sekali sehari dan harga per potnya 200 ribu Dong atau 100 ribu rupiah. Woowww.. apalagi ternyata khasiatnya selain sebagai obat kuat juga untuk membuat awet muda bila dioleskan dikulit. Saya bilang sama teman jepang tersebut, selain akan kuat juga kamu akan menjadi seorang bayi karena overdosis royal jelly. Si Jepang tertawa ngakak sampai jatuh dari kursi. Hahahaha...
Perjalanan selanjutnya naik perahu lagi menuju resto kampung untuk makan siang. Disini bolehlah makan sepuasnya. Harga makanan apalagi seafood termasuk murah di Vietnam. Untuk seporsi udang galah isi 8 atau kepiting saos isi 4 hanya dihargai 70 ribu Dong atau 35 ribu rupiah. Cuma sebelumnya ngomong bahwa kita vegetarian, agar tidak ada babi yang dhidangkan. Hanya nasi, lumpia, sop dan seafood itu tadi. Acara selanjutnya bersepeda keliling kampung. Kali ini kami tidak ikut dan memilih tinggal di resto sambil leyeh-leyeh di tempat tidur gantung. Kenapa? Wong sepeda dirumah aja tidak pernah digowes, la ini di negeri orang malah mau naik sepeda. Ah.. malasnya.
That’s it. Usai sudah perjalanan tur sehari sungai Mekong. Dan waktunya pulang ke kota. Sekitar jam 7 malam kami sudah sampai di jantung kota. Kami putuskan tidak turun di hotel, tapi di Pasar Ben Than. Bukan untuk ngubek-ngubek pasar yang katanya pusatnya oleh2 dan kuliner itu. Tapi kami mau mencoba mencari resto halal di seputaran kota Ho Chi Minh ini.
Namun inilah bencananya, kami terbujuk oleh rayuan tukang becak (disebut cyclo) yang siap mengantar kami ke resto halal di saigon dengan bayaran 15000 Dong satu Cyclo. Kami menyewa 2 becak karena satu becak hanya bisa muat 1 orang, bahkan untuk orang selangsing saya.hehehe. Setelah sekitar 15 menit perjalanan, kita sampai di resto halal yang di maksud. Dan ..... tukang becak yang semula sangat ramah dan santun bagai orang yang lolos penataran P4 5 kali itu berubah jadi vampir yang sangar dan kasar. Bayaran 50 ribu Dong (yang saya sdh lebihkan dari kesepakatan semula itu) dicampakkan dan minta 300 ribu Dong atau 150 ribu Dong per becak!!!
Tapi saya orang bugis yang tidak biasa digertak, jadi saya berdebat juga dengan suara kencang pake bahasa bugis diselingi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Entah dia mengerti atau tidak. Saya tidak peduli, namanya juga lagi emosi. Hehehe. Mungkin karena sy ngototan dan kelihatan tidak lebih galak (padahal istri saya sudah ketakutan takut sy celaka), akhirnya sy bayar juga 150 ribu Dong untuk 2 becak sambil saya kasi kata pamungkas, Kam Er. Terima kasih. Heheheh.. sial betul.
NANTIKAN TULISAN BERIKUT YA, Mencari tempat makan halal di Saigon.
No comments:
Post a Comment